PENGENDALIAN DIRI DAN AJARAN ETIKA MENURUT AJARAN BHAGAVADGITA

1. 1. Susunan dan isi kitab Bhagavadgita

Bhagavadgita merupakan bab XIII sampai bab XI Bhismaparva, parva ke VI epos besar Mahabhrata. Isinya terbagi atas 18 bab dengan susunan sebagai berikut :

Bab I Arjuna Visada Yoga.

Slokanya 47 buah

Bab II Samkhya Yoga

Slokanya 72 buah

Bab III Karma Yoga

Slokanya 43 buah

Bab IV Jnana Yoga

Slokanya 42 buah

Bab V Karma Samnyasa Yoga

Slokanya 29 buah

Bab VI Dhyana Yoga

Slokanya 47 buah

Bab VII Jnana Vijnana Yoga

Slokanya 30 buah

Bab VIII Aksara Brahma Yoga

Slokanya 28 buah

Bab IX Raja Vidyaraja Yoga

Slokanya 34 buah

Bab X Vibhuti Yoga

Slokanya 41 buah

Bab XI Visva Rupa Darsana Yoga

Slokanya 55 buah

Bab XII Bhakti Yoga

Slokanya 20 buah

Bab XIII Ksetra Ksetrajna Vibhaga Yoga

Slokanya 34 buah

Bab XIV Gunatraya Vibhaga Yoga

Slokanya 27 buah

Bab XV Purusottama Yoga

Slokanya 20 buah

Bab XVI Daivasura Sampad Vibhaga Yoga

Slokanya 24 buah

Bab XVII Sraddhataraya Vibhaga Yoga

Slokanya 28 buah

Bab XVIII Samyasa Yoga

Slokanya 78 buah

2. Kecendrungan – kecendrungan sifat manusia

Bhagavadgita menerima ajaran triguna yaitu sattwam, Rajas, Tamas seperti samkhya sebagai unsure – unsure kecendrungan sifat-sifat manusia. Demikianlah diternagkan bahwasattwa adalah kebajikan , rajah sifat rakus, tamas adalah sifat rakus.

Dari sattwa timbulah kebajikan,

Dari rajas timbul kerakusan,

Dari tamas timbul kemalasan,

Juga kekacauan dan kebodohan.

(Bhgavadgita . XIV . 17 )

Dengan adanya sifat – sifat diatas manusia berada dalam keadaan bahagia, terlibat dalam belenggu kegiatan hidup atau jatuh dalam kebingungan.

Sattwa mengikat seseorang dengan kebahagiaan,

Rajas dengan kegiatan,

Tamas menutupi budi pekerti,

Oh arjuna, mengikat dengan kebingungan.

(Bhgavadgita . XIV . 9 )

Mau tak mau manusia harus menerima ikatannya, seperti tersebut diatas dalam bentuk kesucian, duka atau kebodohan

Dikatakan bahwa hasil perbuatan sattwika ialah kebajikan yang suci nirmala,

Hasil dari rajas ialah duka,

Sedangkan hasil dari tamas adalah kebodohan.

(Bhgavadgita . XIV . 16 )

Lebih lanjut Bhagavadgita menguraikan cirri – cirri masing – masing guna itu bila berpengaruh pada diri pribadi seseorang sebagai berikut :

Bila cahaya ilmu pengetahuan menembusi semua pintu gerbang badan,

Maka dikatakan sattwa-lah yang tambah berkuasa.

(Bhgavadgita . XIV . 11 )

Serakah, giat dalam berusaha kegelisahan dan kerinduan merajalela,

Apabila rajas tambaha berkuasa,

Wahai banteng diantara keturunan Bharata.

(Bhgavadgita . XIV . 12 )

Kegelapan, kelesuan, kebodohan,

Dan kekacauan timbul apabila tamas berkuasa,

Wahai kesayangan diantara keluarga Kuru.

(Bhgavadgita . XIV . 13 )

Demikianlah pengaru triguna pada orang yang membawa kecendrungan – kecendrungan kejiwaan pada pada mereka itu . setelah pengaruh triguna ini, Bhagavadgita juga mengelompokkan 2 macam kecendrungan prilaku manusia sebagaimana telah diajarkan oleh Upanisad yaitu kecendrungan kedewataan dan kecendrungan keraksasaan. Kecendrungan kedewataan adalah kecendrungan pada sifat – sifat baik, seperti darmawan , jujur, lembut, kasih sayang dan lain – lain seperti dalam sloka berikut :

Tak gentar, sucihati, bujaksana, mendalami yoga dan ilmu pengetahuan,

Dermawan, menguasai indrya, berupa cara kebaktian,

Mempelajari kitab – kitab sastra, hidup sederhana dan jujur.

(Bhgavadgita . XIV . 1 )

Sedangkan kecendrungan sifat keraksasaan memiliki kecendrungan sifat takabur, sombong, benngis. Bhagavadgita menguraikannya sebagai berikut :

Sifat takabur, angkuh, membanggakan diri,

Pemarah, kasar dan bodoh,

Semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan dengan sifat keraksasaan.

(Bhgavadgita . XIV . 4 )

Demikianlah keterangan triguna dan kecendrungan sifat kedewataan.

3. Pengendalian Diri dan tindakan etis

Sifat – sifat yang dimiliki oleh orang yang memiliki sifat – sifat kedewataan adalah sifat – siat etis karena semuanya itu membawa orang pada keserasian, kedamaian, dan kebahagiaan. Sifat – Sifat rendah hati, tulus, jujur, hormat dsb adalah sifat – sifat etis yang baik dan benar.

Ini berarti orang harus menghindar dari sifat – sifat keraksasaan. Usaha untuk dapat lepas dari sifat – sifat yang tidak baik ialah dengan jalan menguasai diri sendiri. Dalam hal ini , bhagavadgita berulang – ulang menybutkan agar orang dapat menguasai indriya karena indriya yang menghubungkan manusia dengan dunia ini, dunia objek kesenangan. Dengan menguasai indriya maka keinginan yang timbul dari dirinya itu dapat diarahkan kepada tujuan – tujuan yang bak , yang membawa keselamatan pada dirinya sendiri.

Adapun metode untuk menguasai indriya, Bhagavadgita mengikuti praktek ajaran yoga. Indriya harus ditari dari objek – objek keinginan seperi kura – kura menarik semua anggota badannya kedalam dirinya. Dengan penguasaan diri atau indriya maka bahagia lah hidup di dunia ini dan kita mampu menerapkan sifat – siat kedewataan pada kehidupan sehari – hari, selain menguntungkan dirisendiri, pengendalian diri ini mmpu memberikan suasana harmonis dan bahagi adi sekeliling kita.

Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika

Sumber : I Gede Sura , PENGENDALIAN DIRI danETIKA DALAM AJARAN AGAMA HINDU ,

1985

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: