GANESHA

Pengertian
MahaGanesh Dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, nama Ganesa lebih dikenal orang sebagai bhatara gana, ganapati atau gana saja. Istlah kata “Gana” berasal dari bahasa   sanskerta yang artinya makhluk setengah dewa, golongan, atau kelompok.
Adapun ciri cirinya berbentuk setengah manusia dan setengah binatang yang sering disebut makhluk setengah dewa, yitu sewa yang dapat mengusir segala unsure kejahatan yang ingin mengganggu kehidupan manusia. Hal ini dilihat dari adanya upacara macaru di Bali yang bertuuan memohon kekuatan bhatara Gana supaya memperoleh kekuatan.

Cerita lahirnya Ganesa
Diambil dari karya sastra jawa kuno dalam bentuk kekawin ( “ kitab Smaradahana” ), hasil gubahan seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja, pada jaman Kadiri masa pemerintahan Raja Kameswara (1182-115) . Adapun isi singkatnya sebagai berikut :
Ketika Dewa Siwa melakukan yoga di gunung Himalaya, keindraan kedatangan musuh yang bernama Nilarudraka. Supaya Dewa Siwa mau kembali ke sorga, diutuslah dewa Kamajaya yang diminta untuk menggoda denga panah Panca Wisaya yitu panah yang dapat membangkitkan rindu akan pendengaran , perabaan, bau-bauan, dan penglihatan yang serba enak. Dengan tekenaya panah itu, maka Dewa Siwa rindu kepada permaisurinya yaitu Dewi Uma.
Perbuatan Dewa kamajaya yang demikian itu membuat Dewa Siwa menjadi murka. Dewa Kamajaya dipandang dengan mata ketiga yang terletak di tengah-tengah dahinya. Dari itu keluar api yang menyala-nyala. Dewa Kamajaya terbakar oleh api itu da meningal. Dewi Ratih yang mendengar suaminya meninggal terbakar, pergi ketempat suaminya meninggal. Atas kehendak Dewa Siwa, api itu menyala lagi, dan yalanya menyerupai tangan Dewa Kamajaya yang hendak memeluk Dewi Ratih, sampai di tempat itu Dewi Ratih menyeburkan diri kedalam api dan meninggal. Para dew mohon maaf atas kesalahan dewa Kamajaya dan dewi Ratih dan berniat menghidupkannya kembali. Namun Dewa Siwa tidak mengijinkannya. Maksudnya agar Dewa Kamajaya bersemayam dalam hati para laki – laki dan Dewi Ratih bersemayam dalam hati wanita, agar dunia ini tidak punah.
Setibanya Dewa Siwa di sorga, bersualah dengan Dewi Uma saling melepaskan rindu. Akhirnya Dewi Uma hamil. Ketik kandungan masih muda, datanglah para Dewa dengan berkendaraan gajah Indra Pada saat Dewa Siwa dan Dewi Uma sedang bersemayam. Saat Dewi Uma terbangun, dilihatlah gajah yang besar itu, Dewi Uma terperanjat dan menjerit. Dewa Siwa melipur permaisurinya sambil berkata memang kehendak takdir, apabila Dewi Uma melahirkan seorang putra nanti akan berkepala gajah berbadan manusia.
Akhirnya lahirlah Dewa Ganesa (gana), para dewa bergembira namun pada saat itu juga sorga diserang oleh raksasa Nilarudraka. Dewa Gana yang masih ecil dibawa ke meda perang dan diminta utu melawan Nilarudraka yang amat sakti dan ingin menguasai sorga. Pada saat itu dewa Gana yang masih kecil dan belum bisa berjalan diadu dengan musuh, dan terus terkena pukulan oleh raksasa Nilarudraka. Namun anehnya, setiap tekena pukulan, Dewa Gana bertambah besar, dan terus beratambah besar. Sehingga pada saat perang tersebut, seketika Dewa Gana telah menjadi dewasa, dan bertaring besar. Karena Dewa Gana tidak bersenjata, maka taringya pun dipatahkan dan dijadikan senjata dan dengan patahan tersebut dibunuhlah Nilarudraka. Sorgapun kembali aman.

Uraian mengenai Dewa Ganesa, arca Ganesa yang ada di Bali serta pengaruhnya dalam dunia pendidikan.

arca ganesha candi prambanan Dewa Ganesa dengan laksananya yang dipegang pada masing-masing tangannya, berfungsi sebagai Dewa penyelamat, terutama menyelamatkan tanaman, yang dipuja dalam upacara nangluk merana.
Arca Ganesa adalah salah satu kepercayaan peninggalan sejarah yang tetap dikeramatkan dan dipuja oleh umat Hindu di Bali umumnya, desa Pejeng khususnya. Kepercayaan tersebut dapat dibuktikan dengan bahwa di Bali, pernah berkembang sekte Ganapati yang diperkirakan pada abad 8 yaitu dengan membandingkan peninggalan arca Siwa yang ada di Pura Desa Bedulu, Gianyar.
Menurut kepercayaan Arca Ganesa dalam pendidikan agama Hindu, disamping arca Ganesa itu untuk memohon keselamatn mengusir kejahatan , juga sebagai symbol atau lambing kemahakuasaan Tuhan serta sebagai lamabang pendidikan. Dengan melihat dari masing – masing atributnya yaitu : patahan taring melambangkan pengendalian diri, mangkok melambangkan tempat tirta amerta artinya menuntut ilmu secara tekun, kapak melambangkan dapat mengatasi kesuaran, dan tasbih melambangkan bahwa pengetahuan tidak habis-habisnya dipelajari.

Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika


Sumber : “KEPERCAYAAN TEHADAP PENINGGALAN ARCA GANESA DAN PENGARUHNYA DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU “ Tugas akhir fakultas ilmu pendidikan institut Hindu dharma tahun 1988 oleh I Ketut Subita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: