SIWA TATWA

Kata siwa berasal dari istilah sanskerta, yang dalam bentuk ejektivenya berarti mulia (gracious) dandalam bentuk non masculinnya bermakna dewa atau tuhan. Sedangkan tatwa merupakan ilmu filsafat, dalam statusnya sebagai non masculine dan sehubungan dengan bentuk compositum tersebut mengandung maksud asas-asas atau intisari kebenaran sejati . jadi istilah siwa tatwa adalah sebuah compositium / kata majemuk yang dapat diartikan sebagai asas-asas /intisari kebenaran yang sejati dari pada dewa / tuhan , filsafat ketuhananatau widhi tatwa.

Atas dasar adanya cetana dan acetana, maka ia dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu : Paramasiwa (nirguna – Brahma atau tuhan dalam keadaan nirguna / suci –murni), Sadasiwa (saguna – brahma atau tuhan dalam keadaan saguna / mahakuasa ), Siwatma (Mayasira – Tatwa / jiwatma atau tuhan dalam pengaruhnya maya yang menjadi sumber hidup / jiwatma bagi segala makhluk).

Parama Siwa Tatwa

Parama Siwa adalah cetana/ purusa atau kejiwaan/kesadaran yangtertinggi (tuhan), suci – murni, belum sama sekali terkena pengaruh maya (acetana/prakerti/pradhana),tenang tentram, kekal abadi, tidak berawal,tidak berakhir ; maka itu beliau diberi gelar “Nirguna Brahama”

Arti petikan:

Yang disebut Parama Siwa Tatwa, ialah iswara yang tak dapat terukur, tak dapat diberi jenis, tak dapat diumpamakan, tak dapat dikotori, maha halus , ada dimana – mana, kekal abadi, senantiasa langgeng, tidak pernahberkurang. Tak dapat diukur, karena dia tak terbatas, tak dapat diberi jenis, karena ia tak punya sifat, tak dapat diumpamakan, karena tiada sesuatu seperti dia, tak dapat dikotori, karena dia tak ternoda.

Mahagaib , karena dia tak dapat diamati, berada dimana-mana, karena Dia menembus segala, kekal abadi , karena Dia suci – Murni, dan selalu langgeng, karena dia tak bergerak .

Tak pernah berkurang, karena dia maha sempurna, begitu pula keadaannyta adalah tenang, inilah (parama)-Siwa tatwa yang menampati segala-galanya .

Bhatara (paramasiwa) adalah aprameya, yakni tak dapat dibayangkan dalam pikiran, apa sebab ? sebab (keadaan-Nya) ananta, yaitu tiada berakhir ; Anirdesya, yaitu tak dapat dibatasi karena keadaan-Nya tanpa aktivitas; anaupamya yaitu tak dapat diumpamakan, karena tiada sesuatupun yang menyamai-Nya ; anamaya yaitu tiada pernah menderita / bernoda, karena adanya bebas dari segala (suci murni ). Maha gaib beliau, karena adanya tak dapat diamati; wyapaka beliau , yaitu maha ada dimana – mana, dipenuhinya dunia ini segala-galanya ; tetap teguh selalu, adanya tiada berawal, kekal abadi, tetap sadar beliau keadaannya berubah – ubah, menetap selalu awyayam yaitu tiada pernah berkurang , Karena keadaannnya serba sempurna. Beliau adalah Iswara ; Iswara artinya berkeadaan sebagai raja, beliaulah pengatur yang tanpa diatur (peraturan). Demikianlah yang disebut Parama Siwa Tatwa.

(whraspati tatwa 7 – 10 )

Berdasarkan kutipan tersebut, agaknya dapat terbayangkan alam benak kita mengenai kemahagaiban sifatnya Hyang Parama Siwa. Karena kemurnian dan kenirgunannya, maka tidaklah ada sesuatu yang dapat mempengaruhi beliau.

SADASIWA – TATWA

Jika cetana atau tuhan Paramasiwa (nirguna brahma) itu mulai mengambil atau kena imbas dari acetana atau maya, maka Dia mulai mempunyai sifat, aktivitas, dan fungsi. Dalam keadaan beini beliau bergelas Sadasiwa atau Saguna Brahman. Adapun pengaruh maya ini belumlah besar, hanya berupa guna atau hukum kemahakuasaan-Nya sendiri yang disebut : sakti atau prakerti sehingga sadaran asli – nya yang suci murni itu masih lebih besar dan lebih berkuasa atas guna atau unsure Maya tersebut. Oleh karena demikian Sadasiwa sering juga disebut sebagai saguna brahma yaitu Tuhan serba guna, atau Siwa Sawyaparah yaitu Parama Siwa yang telah bersenyawa dengan sakti atau hukum kemahakuasaan-Nya

Adapun kemahakuasaan dan kemahasempurnaan – Nya Hyang Sadasiwa antara lain : “Guna, Sakti, Swabhawa.

1. Guna dari Tuhan (sadasiwa)

Guna atau sifat mulia dari Tuhan ( Sadasiwa ) ada 3 yaitu :

a. Durasrawana (berpendngaran serba jauh ), mampu mendegarkan suara yang dekat dan jauh atau suara keras maupun bisikan hati.

b. Durasarwajna ( berpengertian / berpengetahuan serba sempurna ),dapat mengetahui segalanya baik yang terdekat maupun yang terjauh, maupun yang terjadi di masa lampau (atita), sekarang (wartamana) dan yang akan terjadi (nagata).

c. Duradrsana ( berpenglihatan / berpandangan serba luas ), maksudnya : dapat melihat baik yang berwujud maupun semu baik yang belum ada, yang sudah ada maupun yang akan ada dari tingkat terbesar hingga terkecil.

2. Sakti dari Tuhan (sadasiwa)

Sadasiwa atau Saguna Brahma mempunyai empat macam kesaktian utama yang disebut dengan cadu sakti yaitu :

a. Wibhusakti (maha ada ), artinya beliau ada dalam segalnya dn dimana-mana, tetapi keadaannya tidak terpengaruh oleh apa-apa namun tetap suci murni selalu.

b. Prabhusakti ( mahakuasa ), yakni menguasai segala-galanya, seperti rajadirajadan tidak ada yang memadi kekuasaannya. Segala sesuatunya tetap ada dibawah perintah – Nya. Dalam hal ini beliau sering digelari : Iswara, atau Maheswara.

c. Jnanasakti ( maha tahu ) sebagai sumber dari segal wiweka ( pertimbangan akal / pikiran dan kebujaksanaan.

d. Kriya sakti ( maha karya ) dapat mngerjakan segalanya dengan sukses dan sempurna.

3. Swabhawa dari Tuhan (Sadasiwa)

Disamping guna dan cadu sakti seperti diatas, Sadasiwa juga memiliki kewibawaan dan kemahakuasaan yang disebut “Astaiswarya” ( 8 kewibawaan/keistimewaan yang dimiliki oleh Hyang WidhI), yaitu :

a. Anima (kecil-sekecilkecilnya)

b. Laghima (ringan seringan-ringannya)

c. Mahima (maha besar)

d. Prapti (dapat mencapai segala-galanya )

e. Prakamya ( berhasil segla hal yang dikehendaki )

f. Isitwa ( merajai segalanya )

g. Wasitwa ( maha kuasa )

h. Yatrakamawasayitwa ( hendak kemana, ketika sampi dn berkuasa )

SIWATMA TATWA

Siwatma merupakan cetana / purusa atau usur kejiwaan yang lebih banyak dipengaruhi oleh maya atau acetana / prakerti / pradhana, jika dibandingkan dengan Sadasiwa dimana kesadran-Nya telah mulai kena pengaruh lupa (awidya). Pada Sadasiwa, unsure maya yang mempengaruhi-Nya itu hanya berupa sifat kemahakuasaannya saja, sedangkan unsur kesadaran-Nya masih tetap dapat menguasai dan mengendalikan unsur maya tersebut; sedangkan pada Siwatma, sifat kemahakuasaan itu sudah berkurang dan mulai cenderung terpengaruh oleh unsure materi (maya). Oleh karena itu Siwatma Tatwa sering disebut Mayasira Tatwa.

Mayasira Tatwa (Siwatma) ini mulai kena wyapara atau noda dari unsure maya. Berdasarkan atas wyapara ini maka Siwatma Tatwa atau Mayasira Tatwa itu ada tingkat-tingkatanya sebanyak delapan tingkat yang disebut astawidyasana yaitu (diurut dari yang terendah ke yang semakin tinggi ) :

1. Ananta

2. Suksma

3. Siwatma

4. Ekarudra

5. Ekanetra

6. Tri Murti

7. Srikantha

8. Srikandhi

Jika diukur dari tingkat kemurnian kesadaran-Nya, maka Paramasiwa adala yang tertinggi, Sadasiwa yang sedang dan Siwatma yang kurang. Demikian pula sebaliknya jika ditinjau dari adanya pengaruh maya, maka Paramasiwa adalh yang suci murni belum kena pengaruh maya dan Sadasiwa adalah sedikit kena pengaruh maya namun Siwatm itu adalh sedang.

Jadi posisi Paramasiwa adalah yang tertinggi.

Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika

Sumber : G.Pudja,M.A.SH, I.K. Wiana, Ida Bagus Kade Sindhu . 1983 . TATTWA DARSANA . Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: