CHATTING FACEBOOK DI HAPE

fasebookDalam facebook terdapat fasilitas chating yang yang diberi nama fasilitas chat. Fasilitas ini biasanya dapat anda temukan pada pojok kanan bawah halaman facebook milik anda. Dan yang biasanya diajak chating tersebut tentu saja teman teman sesama pengguna facebook  yang biasanya jumlahnya lebih banyak daripada pengguna chatting yang lainnya seperti YM, MSN, Skype dan yang lainnya.

Hal ini sangat mudah dilakukan baik di computer maupun di laptop. Namun , layanan facebook yang satu ini tidak dapat dinikmati pada ponsel, meskipun versi mobile dari  facebook itu sendiri sudah dapat di buka dalam ponsel. Untuk dapan memanfaatkan fasilitas chat ini, kita membutuhkan bantuan pihak ketiga (third party) yang memang secara khusus diperuntukkan untuk instant messaging di ponsel.

Dalam hal ini, saya akan memperkenalkan mengenai beberapa fasilitas instant messaging yang dapat digunakan untuk segala kebutuhan chatting bukan hanya facebook saja. Namun dalam hal ini saya akan memfokuskan aplikasi third party yang dapat digunakan untuk chat facebook di ponsel.

Beberapa aplikasi tersebut antara lain :

  1. Ebuddy
  2. Palringo
  3. Yeigo
  4. Nimbuzz
  5. Skybook

Semua aplikasi third party yang saya sebutkan diatas dapat didapat secara gratis.

.

Tapi untuk kali ini saya hanya akan menjelaskan mengenai Nimbuzzsign in

  1. Anda dapat memilih untuk membuat account terlebih dahulu baru mengunduh programnya, atau sebaliknya ( mengunduh program terlebih dahulu baru membuat account)
  2. Anda hanya perlu pergi ke websitenya yang sudah saya sebutkan diatas lalu mengunduh nya langsung sesuai spesifkasi ponsel anda.
  3. Jika anda menggunakan browser ponsel, anda dapat mengunduhnya langsung  disini
  4. Setelah anda mengunduh file sesuai ponsel anda lalu install aplikasi ini pada ponsel anda.
  1. Setelah install maka anda diminta untuk memasukkan account nimbuzz anda, jika belum punya, tinggal daftar saja (gratis) pendaftarannya hamper sama seperti membuat account facebook, yang diminta hanya username, password, alamat e-mail dan beberapa informasi pribadi.
  2. Setelah anda sign in, maka akan ada  pilihan untuk memasuki layanan chatting baik itu facebook, ym, skype dan yang lainnya , anda tinggal memasukkan alamat email dan password account facebook anda.
  3. Akhirnya, selamat menikmati aplikasi ini dan berchatting ria.

TATWA, SUSILA, UPACARA

Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan jasmani. Dalam pustaka weda disebutkan : “MOKSHARTHAM JAADHITAYA CA ITI DHARMA” , yang artinya : agama atau dharma itu ialah untuk mencapai moksa (kebahagiaan rohani) dan jagadhita yang artinya mencapai kebebasan jiwatman. Untuk mencapai hal tersebut, agama menjabarkan menjadi tiga bagian yang diseut dengan tiga kerangka dasar agama Hindu.

TIGA KERANGKA DASAR UMAT HINDU

Terdiri dari :

TATWA = FILSAFAT

SUSILA = ETIKA

UPACARA = RITUAL

Tatwa

Yang dimaksud dengan Tattwa adalah cara kita melaksanakan ajaran

agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama.

Susila

Adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan

perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah-kaidah agama.

Upacara

adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal

dengan Panca Yadnya : Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya.

Ketiga bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat diisahkan antara yang satu dan yang lainnya. Dan ketiganya ini mesti dimiliki dan dilaksanakan oleh umat hindu semuanya. Demikian eratnya kaitan antra ketiga dasar ini, dapat kita umpamakan seperti sebuah telur yang terdiri dari : kuning telur dan sarinya = tatwa, putih telur = susila, da kulit telur = upacara.

Telur itu sempurna jika ketiga bagiannya sempurna dan dipanaskan dengan tepat dan baik oleh sang induk ayam, maka akan menetaslah telur itu atau lahirlah anak ayam sebagai tujuan akhir dari diciptakan nya sebuah telur.


Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika

  • Drs. I Ketut Sukartha dkk, Agama Hindu Untuk SLTP kelas 1, diterbitkan oleh ganeca exact

GANESHA

Pengertian
MahaGanesh Dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, nama Ganesa lebih dikenal orang sebagai bhatara gana, ganapati atau gana saja. Istlah kata “Gana” berasal dari bahasa   sanskerta yang artinya makhluk setengah dewa, golongan, atau kelompok.
Adapun ciri cirinya berbentuk setengah manusia dan setengah binatang yang sering disebut makhluk setengah dewa, yitu sewa yang dapat mengusir segala unsure kejahatan yang ingin mengganggu kehidupan manusia. Hal ini dilihat dari adanya upacara macaru di Bali yang bertuuan memohon kekuatan bhatara Gana supaya memperoleh kekuatan.

Cerita lahirnya Ganesa
Diambil dari karya sastra jawa kuno dalam bentuk kekawin ( “ kitab Smaradahana” ), hasil gubahan seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja, pada jaman Kadiri masa pemerintahan Raja Kameswara (1182-115) . Adapun isi singkatnya sebagai berikut :
Ketika Dewa Siwa melakukan yoga di gunung Himalaya, keindraan kedatangan musuh yang bernama Nilarudraka. Supaya Dewa Siwa mau kembali ke sorga, diutuslah dewa Kamajaya yang diminta untuk menggoda denga panah Panca Wisaya yitu panah yang dapat membangkitkan rindu akan pendengaran , perabaan, bau-bauan, dan penglihatan yang serba enak. Dengan tekenaya panah itu, maka Dewa Siwa rindu kepada permaisurinya yaitu Dewi Uma.
Perbuatan Dewa kamajaya yang demikian itu membuat Dewa Siwa menjadi murka. Dewa Kamajaya dipandang dengan mata ketiga yang terletak di tengah-tengah dahinya. Dari itu keluar api yang menyala-nyala. Dewa Kamajaya terbakar oleh api itu da meningal. Dewi Ratih yang mendengar suaminya meninggal terbakar, pergi ketempat suaminya meninggal. Atas kehendak Dewa Siwa, api itu menyala lagi, dan yalanya menyerupai tangan Dewa Kamajaya yang hendak memeluk Dewi Ratih, sampai di tempat itu Dewi Ratih menyeburkan diri kedalam api dan meninggal. Para dew mohon maaf atas kesalahan dewa Kamajaya dan dewi Ratih dan berniat menghidupkannya kembali. Namun Dewa Siwa tidak mengijinkannya. Maksudnya agar Dewa Kamajaya bersemayam dalam hati para laki – laki dan Dewi Ratih bersemayam dalam hati wanita, agar dunia ini tidak punah.
Setibanya Dewa Siwa di sorga, bersualah dengan Dewi Uma saling melepaskan rindu. Akhirnya Dewi Uma hamil. Ketik kandungan masih muda, datanglah para Dewa dengan berkendaraan gajah Indra Pada saat Dewa Siwa dan Dewi Uma sedang bersemayam. Saat Dewi Uma terbangun, dilihatlah gajah yang besar itu, Dewi Uma terperanjat dan menjerit. Dewa Siwa melipur permaisurinya sambil berkata memang kehendak takdir, apabila Dewi Uma melahirkan seorang putra nanti akan berkepala gajah berbadan manusia.
Akhirnya lahirlah Dewa Ganesa (gana), para dewa bergembira namun pada saat itu juga sorga diserang oleh raksasa Nilarudraka. Dewa Gana yang masih ecil dibawa ke meda perang dan diminta utu melawan Nilarudraka yang amat sakti dan ingin menguasai sorga. Pada saat itu dewa Gana yang masih kecil dan belum bisa berjalan diadu dengan musuh, dan terus terkena pukulan oleh raksasa Nilarudraka. Namun anehnya, setiap tekena pukulan, Dewa Gana bertambah besar, dan terus beratambah besar. Sehingga pada saat perang tersebut, seketika Dewa Gana telah menjadi dewasa, dan bertaring besar. Karena Dewa Gana tidak bersenjata, maka taringya pun dipatahkan dan dijadikan senjata dan dengan patahan tersebut dibunuhlah Nilarudraka. Sorgapun kembali aman.

Uraian mengenai Dewa Ganesa, arca Ganesa yang ada di Bali serta pengaruhnya dalam dunia pendidikan.

arca ganesha candi prambanan Dewa Ganesa dengan laksananya yang dipegang pada masing-masing tangannya, berfungsi sebagai Dewa penyelamat, terutama menyelamatkan tanaman, yang dipuja dalam upacara nangluk merana.
Arca Ganesa adalah salah satu kepercayaan peninggalan sejarah yang tetap dikeramatkan dan dipuja oleh umat Hindu di Bali umumnya, desa Pejeng khususnya. Kepercayaan tersebut dapat dibuktikan dengan bahwa di Bali, pernah berkembang sekte Ganapati yang diperkirakan pada abad 8 yaitu dengan membandingkan peninggalan arca Siwa yang ada di Pura Desa Bedulu, Gianyar.
Menurut kepercayaan Arca Ganesa dalam pendidikan agama Hindu, disamping arca Ganesa itu untuk memohon keselamatn mengusir kejahatan , juga sebagai symbol atau lambing kemahakuasaan Tuhan serta sebagai lamabang pendidikan. Dengan melihat dari masing – masing atributnya yaitu : patahan taring melambangkan pengendalian diri, mangkok melambangkan tempat tirta amerta artinya menuntut ilmu secara tekun, kapak melambangkan dapat mengatasi kesuaran, dan tasbih melambangkan bahwa pengetahuan tidak habis-habisnya dipelajari.

Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika


Sumber : “KEPERCAYAAN TEHADAP PENINGGALAN ARCA GANESA DAN PENGARUHNYA DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU “ Tugas akhir fakultas ilmu pendidikan institut Hindu dharma tahun 1988 oleh I Ketut Subita

TAHUN SAKA DAN NYEPI di DINDONESIA

Menurut agama Hindu, alam semesta ini pada mulanya adalah kosong, sunya, tiada ada yang ada. Maka tibalah suatu permulaan dari penciptaan, sebutir telur dala Hiranyagharba sakti merupakan beni pertama segala apa yang terciptakan, disebut Mahadivya, pada awal yuga yang pertama. Inilah cahaya Brahman, Mahatman pertama, kekal abadi, tiada terlukiskan, cemeralng memancar ke mana-mana, ke seluruh penjuru. Ini adalah asal mula paling halus alam benda jasmaniah dan alam bukan benda-benda rohaniah. Dari telur cahaya Brahman ini terlahir Pitamaha, satu-satunya makhluk disebut Prajapati
Kemudian setealh Brahman, hyang Widhi ( Tuhan Yang Maha Esa ), tercipta sendiri cahaya suci wiwaswan ata sambhu. Demikianlah kemudian Brahman menciptakan sorga, ujjung sorga, planet, angksa, bulan, udara, ether, air,bumi ; kemudian tahun, musim, sasih (bulan), paksha (tilem dan purnama ), siang dan malam. Demikianlah tercipta segala-galanya kecuali manusia. Wiwaswan atauSambhu sebagai personifikasi matahari menerima wahyu dari Brahman untuk menciptakan manusia pertama, yaitu Manu. Sambhu yang menerima wahyu dari Brahman, mengajarkan kepad mnusia ajaran –ajaran suci dalam bentuk Veda –Desa. Sesuai pesan Sambhu, Manu kemudia mengajarkn wahyu, yaitu isi kitab suci veda-veda kepada Iswaku , undang – undang hukum hidup dalam alam semesta ini, agar alam semesta ini dapat dilestarikan dan tidak termusnahkan di kala yang mendatang.
Kehidupan manusia mengalami pasang surut kehidupan . Demi melindungi kebjukan dan menegakkan dharma Hyang Widhi, turun menjelma dalm wujud Sri Krishna sebgai yang diungkapkan oleh Bhagawadgita :

Mana kala dharma hendak sirna
Dan adharma hendak merajalela
Saat itu, wahai keturunan Bharata
Aku sendiri turun menjelma

Jadi untuk menyelamatkan manusia dari ahdarma Hyang Widhi turun ke dunia dalam wujud Sri Krishna (1000 STM), Mavira dan Sidharta Gautama ( abad ke-6 STM ), Aji Saka ( 78 TM ) dan sebagainya.
Abad 1 tahun masehi merupakan jaman keemasan bagi umat Hindu di India. Jaman emilang ini dicatat dengan lahirnya Kanishka I dari keturunan dinasti Kushana, masyur karena sikap toleransinya yan gterlahir dari kebangkitan umat beragama, baik itu agama Budha, agama Hindu sekta Siva, sekta Visnu, Tantri, Tirtha dan sebagainya. Misi kebangkitan ini berkembang sangat luas bahkan sampai di Indonesia.
Misi – misi keagamaan mengadakan perjalanan ke mancanegara menyebarkan ajaran – ajaran suci sesuai jaman kebangkitan dan toleransi beragama ini. Demiianlah seorang pandita Saka gelar Asi Saka menyebarkan kebangkitan dan toleransi beragama dan mengadakan ekspedisi ke Indonesia meuju jawa mendarat di Desa Waru , Rembang di daerah jawa Tengah. Hal ini mendpat gayung sambutan meriah diman agama Hindu telah tersebar luas. Begitu besarnya antusiasme tersebut, sampai tersermin dalam ungkapan karya Empu Tantular : “Bhineka Tunggal Ika Tan Ana Dharma Mangrwa”. Kehadiran pendita Saka gelarAji Saka yang teramat penting dan tidak dapat dilewatkan.
Pendita Saka gelar Aji Saka ii adalah keturuan bangsa Saka dari Kshatrapa Gujarat, Barat laut India, tiba di Indonesia 456 masehi, tatkala di Indonesia berkus Maharaja di Raja Skanda Gupta dari dinasti Gupta Yang Agung yang menaklukan dinasti Kushana dan mengenyahkan merak dai India.
Berkat ketekunan dan keuletan Pendita Saka Gelar Aji Saka yang menyebarkan doktrin kebangkitan dan toleransi beragama, yan dirintis oleh maharaja di Raj Kanishka I hamper 400 tahun sebelumnya, yaitu 78 masehi di India, aka dotrin ini tetap berkembang hingga kini. Makin hari makin subur. Demiianlah hari tanggal 1 bulan 1 tahun 1 saka yang jatuh pada tahun 78 masehi diperingati dan dirayakan oleh umat Hindu yang mengagungkan kebangkitan dan toleransi beragama sebagai Hari Raya Nyepi.
Bagi umat Hindu megagungkan Hari Raya Nyepi merupakan kebutuhan mutlak untuk meningkatkan iwa spiritual pribadi masng-masing. Merayakan Hari Raya Nyepi bertujuan untuk memprlus jaringan persaudaraan hakiki antar umat manusia dengan jalan menumbuhkan kepribadian utuh dalam diri manusia, rasa tanggung jawab serta toleransi.

Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika

Sumber : Nyoman S. Pendit, NYEPI Hari Kebangkitan dan Toleransi, penerbit : Yayasan Merta Sari 1984.

CATUR ASRAMA

BAB I
PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta modernisasi, sebagian oang telah mengabaikan ajaran – ajaran agama. Melalui karya tulis ini saya mencoba untuk mengingatkan kembali salah satu materi dalam pelajaran agama Hindu, yaitu tentang catur asrama. Dalam karya tulis ini akan dibahas mengenai pengertian catur asrama & bagian- bagian dari catur asrama, dimana diharapkan para pembaca dapat mengetahui, mengerti dan memahami dengan mudah isi karya tulis ini
Setelah memahami karya ini, diharapkan para pembaca atau khususnya mahasiswa dapat selalu menjungjung tinggi nilai- nilai spiritual keagamaan yang dapat menjadikan mahasiswa yang memiliki etika, budi pekerti luhur, bermoral, bertanggung jawab serta menjauhi segala laranganNya.

BAB II
CATUR ASRAMA

A. PENGERTIAN
Catur Asrama terdiri atas dua kata yakni “ Catur”, yang berarti empat dan “Asrama”, berarti tahapan atau jenjang.
Jadi Catur Asrama artinya empat jenjang kehidupan yang harus dijalani untuk mencapai moksa.
Atau catur asrama dapat pula diartikan sebagai empat lapangan atau tingkatan hidup manusia atas dasar keharmonisan hidup dimana pada tiap- tiap tingkat kehidupan manusia diwarnai oleh adanya ciri- ciri tugas kewajiban yang berbeda antara satu masa (asrama) dengan masa lainnya, tetapi merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan
B. BAGIAN – BAGIAN CATUR ASRAMA
1. BRAHMACARI ASRAMA
2. GRHASTA ASRAMA
3. WANAPRASTA ASRAMA
4. SANIASA / BHIKSUKA

B.1 BRAHAMACARI ASRAMA
Brahma cari terdiri dari dua kata yaitu Brahma yang berarti ilmu pengetahuan dan cari yang berarti tingkah laku dalam mecari dan menuntut ilmu pengetahuan.
Brahmacari berarti tingkatan hidup bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan.
Kehidupan para pelajar di mulai dengan upacara Upanayana, sebagai hari kelahirannya yang kedua. Mereka harus dibuat tabah dan sederhana dalam kebiasaan – kebiasaan mereka harus bangun pagi – pagi , mandi melakukakn sandhya & java gayatri serta mempelajari kitab – kitab suci.
Menurut ajaran agama hindu, dalam brahmacari asrama, para siswa dilarang mengumbar hawa nafsu sex. Adapun hubungan antara perilaku seksual dan brahmacari dapat di ketahui melalui istilah berikut :
1. Sukla brahmacari
Orang yang tidak kawin semasa hidupnya, bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka sudah berkeinginan untuk nyukla brahmacari sampai akhir hayatnya.
2. Sewala brahmacari
Orang yang menikah sekali dalam masa hidupnya

3. Kresna brahmacari
Pemberian ijin untuk menikah maksimal 4 kali karena suatu alasan yang tidak memungkinkan diberikan oleh sang istri, seperti isang istri tidak dapat menghasilkan keturunan, sang istri sakit-sakitan, dan bila istri sebelumnya memberikan ijin.
B.1 GRHASTA ASRAMA
Tahapan yang kedua tentang grhasta / berumah tangga .tahapan ini dimasuki pada saat perkawinan. Tahapan ini merupakan hal yang sangat penting, karena menunjang yang lainnya. Perkawinan meerupakan salah satu acara suci bagi seorang Hindu. Istri merupakan rekan dalam kehidupan ( Ardhangini ), ia tidak dapat melakukan ritual agama tanpa istrinya.
Sebuah rumah tangga harus mendapatkan artha yang erlandaskan dhrma dan dipergunakan dengan cara yag pantas. Ia harus memberikan 1/10 bagian dari penghasilannya untuk amal.
Beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan dalam berumah tangga :
1) Melanjutkan keturunan
2) Membina rumah tangga
3) Bermasyarakat
4) Melaksanakan panca yajnya :
 Dewa Yajna : persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya
 Rsi Yajna :persembahan pada para rsi, guru, maupun tokoh atau pemuka agama
 Manusa yajnya :persembahan pada sesama manusia
 Pitra Yajna : persembahan pada para leluhur
 Bhuta Yajna :persembahan kepada para bhuta.
B.3 WANAPRASTHA ASRAMA
Tahapan yang ketiga wanaprstha, tahapan ini merupakan suatu persiapan bagi tahap akhir yaitu sannyasa . setelah melepaskan segala kewajiban seorang kepala rumah tangga, ia harus meninggalkanya menuju hutan atau sebuah tempat terpencil di luar kota untuk memulai meditasi dalam kesunyian pada masalah spiritual yang lebih tinggi.
Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/ moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.
Adapun ciri-ciri orang yang telah dapat masuki tahap wanapratha ini adalah: usia yang sudah lanjut, mempunyai banyak pengalaman hidup, mampu mengatasi gelombang pahit getirnya kehidupan, serta mempunyai kebijaksanan yang dilandasi oleh ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Telah memiliki keturunan atau generasi lanjutan yang sudah mapan dan mampu hidup mandiri.serta tidak bergantung lagi pada orang tua baik dibidang ekonomi maupun yang lainnya.

B.4 SANNYASIN / BHIKSUKA
Tahap yang terkhir adalah sannyasin. Bila seseorang laki- laki menjadi seorang sannyasin, ia meninggalkan semua miliknya, segala perbedaan golongan,segala upacara ritual dan segala keterikatan pada suatu negara, bangsa atau agama tertentu. Ia hidup sendiri dan menghabiskan waktunya dalam meditasi. Bila ia mencapai keadaan yang indah dari meditasinya yang mendalam, ia mengembirakan dalam dirinya sendiri. Ia sepenuhnyaa tak tertarik pada kenikmatan duniawi. Ia bebas dari rasa suka dan tidak suka, keinginan, keakuan,nafsu ,kemarahan, kesombongan dan ketamakan. Ia memiliki visi yang sama dan pikiran yang seimbang dan ia mencintai semuanya. Ia mengembara dengan bahagia dan menyebarkan brahma jnana atau pengetahuan sang diri. Ia sama ketika dihormati maupun dicaci, dipuja dan dikecam, berhasil maupun gagal. Ia sekarang adalah atiwarnasrami yang mengatasi warna dan asrama. Ia seorang laki – laki yang bebas sepenuhnya. Ia tak terikat oleh sutau kebiasaan adat masyarakat.
Sannyasin adalah seoang laki- laki idaman. Ia telah mecapai kesempurnaan dan kebebasan. Ia adalah Brahman sendiri. Ia seoarang jiwanmukta atau seorang bijak yang bebas. Mulialah tokoh pujaan seperti itu yang merupakan Tuhan yang hidup di dunia.

C. APLIKASI PENERAPAN CATUR ASRAMA PADA JAMAN MODERN

Pada saat ini, asrama tak dapat dihidupkan secara tepat sesuai dengan aturan rincian kuno, karena kondisinya telah banyak sekali berubah, tetapi dapat dihidupkan kembali dalam semangatnya, terhadap kemajuan yang besar dari kehidupan yang modern.
Kedamaian dan aturan akan berlaku dalam masyarakat , hanya apabila semua melaksanakan kewajiban masing – masing secara efektif. Penghapusan warna dan asrama akan memotong akar dari kewajiban social masyarakat. Bagaimana bangsa dapat mengharapkan untuk hidup bila warnasrama dharma tidak dilaksanakan secara tegar ?
 Murid – murid sekolah dan perguruan tinggi seharusnya menjalani suatu kehidupan yang murni , sederhana serta focus pada mengejar ilmu pengetahuan stinggi-tingginya.
 Kepala rumah tangga seharusnya menjalani kehidupan sebuah grhasta yang ideal, ia seharusnya melaksanakan pengendalian diri, welas asih, toleransi, tidak merugikan, berlaku jujur,dan kewajaran dalam segala hal. Selain itu, dengan berbekal ilmu dan keterampilan yang memadai yang didapat pada masa brahmacari, seseorang diharapkan mendapat profesi menjanjikan sesuai dengan keahliannya atau bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Melalui media itu umat dapat mencari artha dan kama yang didasarkan atas dharma.
 Sementara pada saat menapaki kehidupan wanaprasta, umat sesungguhnya dituntun untuk mengasingkan diri dari hal-hal yang berbau keduniawian. Dulu, menapaki hidup wanaprasta umat pergi ke hutan untuk menyepikan diri. Tetapi dalam konteks sekarang, ”hutan belantara” itu berada di tengah-tengah kita. Agar umat mampu menghindari diri dari kobaran api hawa nafsu, yang memang memerlukan pengendalian diri.
 Pada tahapan bhiksuka atau sanyasin, umat sangat baik mendalami hal-hal yang bernuasa spiritual untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dan diharapkan umat sudah harus mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keinginan duniawi dan dapat menjauhkan diri dari sifat dan musuh yang ada dalam diri seperti sad ripu, sapta timira, sad atatayi, tri mala serta yang sejenisnya.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian penjelasan diatas dapat disimpulakan bahwa :
1. Catur asrama adalah empat jenjang kehidupan manusia yang harus dijalani untuk mencapai moksa.
2. Catur asrama terbagi dalam empat bagian yaitu:
 Brahmacari asrama : Masa belajar sebagai murid untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta mempelajari kitab – kitab suci.
 Grhasta asrama : Masa untuk menikah, membina rumah tangga yang harmonis dan ideal serta meneruskan keturunannya.
 Wanaprastha asrama : Masa untuk mempersiapkan diri untuk melakukan pertapaan / meditasi serta mulai meninggalkan ikatan duniawi.
 Sannyasin / bhiksuka : Masa yang telah dicapai titik kesempurnaan serta tidak terikat ladi pada kehidupan yang keduniwian.

DISUSUN oleh : I Wayan Sudharmika
DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.hindubatam.com/caturasrama.html
2. http://www.hindubatam.com/grahasta.html
3. http://www.hindubatam.com/wanaprasta.html
4. http://www.hindubatam.com/bhiksuka.html
5. http://www.parisada.org/index.php?option=com_c ontent&task=view&id=1106&Itemid=79
6. http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1106&Itemid=79
7. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/3/30/bd1.htm

PENGENDALIAN DIRI DAN AJARAN ETIKA MENURUT AJARAN BHAGAVADGITA

1. 1. Susunan dan isi kitab Bhagavadgita

Bhagavadgita merupakan bab XIII sampai bab XI Bhismaparva, parva ke VI epos besar Mahabhrata. Isinya terbagi atas 18 bab dengan susunan sebagai berikut :

Bab I Arjuna Visada Yoga.

Slokanya 47 buah

Bab II Samkhya Yoga

Slokanya 72 buah

Bab III Karma Yoga

Slokanya 43 buah

Bab IV Jnana Yoga

Slokanya 42 buah

Bab V Karma Samnyasa Yoga

Slokanya 29 buah

Bab VI Dhyana Yoga

Slokanya 47 buah

Bab VII Jnana Vijnana Yoga

Slokanya 30 buah

Bab VIII Aksara Brahma Yoga

Slokanya 28 buah

Bab IX Raja Vidyaraja Yoga

Slokanya 34 buah

Bab X Vibhuti Yoga

Slokanya 41 buah

Bab XI Visva Rupa Darsana Yoga

Slokanya 55 buah

Bab XII Bhakti Yoga

Slokanya 20 buah

Bab XIII Ksetra Ksetrajna Vibhaga Yoga

Slokanya 34 buah

Bab XIV Gunatraya Vibhaga Yoga

Slokanya 27 buah

Bab XV Purusottama Yoga

Slokanya 20 buah

Bab XVI Daivasura Sampad Vibhaga Yoga

Slokanya 24 buah

Bab XVII Sraddhataraya Vibhaga Yoga

Slokanya 28 buah

Bab XVIII Samyasa Yoga

Slokanya 78 buah

2. Kecendrungan – kecendrungan sifat manusia

Bhagavadgita menerima ajaran triguna yaitu sattwam, Rajas, Tamas seperti samkhya sebagai unsure – unsure kecendrungan sifat-sifat manusia. Demikianlah diternagkan bahwasattwa adalah kebajikan , rajah sifat rakus, tamas adalah sifat rakus.

Dari sattwa timbulah kebajikan,

Dari rajas timbul kerakusan,

Dari tamas timbul kemalasan,

Juga kekacauan dan kebodohan.

(Bhgavadgita . XIV . 17 )

Dengan adanya sifat – sifat diatas manusia berada dalam keadaan bahagia, terlibat dalam belenggu kegiatan hidup atau jatuh dalam kebingungan.

Sattwa mengikat seseorang dengan kebahagiaan,

Rajas dengan kegiatan,

Tamas menutupi budi pekerti,

Oh arjuna, mengikat dengan kebingungan.

(Bhgavadgita . XIV . 9 )

Mau tak mau manusia harus menerima ikatannya, seperti tersebut diatas dalam bentuk kesucian, duka atau kebodohan

Dikatakan bahwa hasil perbuatan sattwika ialah kebajikan yang suci nirmala,

Hasil dari rajas ialah duka,

Sedangkan hasil dari tamas adalah kebodohan.

(Bhgavadgita . XIV . 16 )

Lebih lanjut Bhagavadgita menguraikan cirri – cirri masing – masing guna itu bila berpengaruh pada diri pribadi seseorang sebagai berikut :

Bila cahaya ilmu pengetahuan menembusi semua pintu gerbang badan,

Maka dikatakan sattwa-lah yang tambah berkuasa.

(Bhgavadgita . XIV . 11 )

Serakah, giat dalam berusaha kegelisahan dan kerinduan merajalela,

Apabila rajas tambaha berkuasa,

Wahai banteng diantara keturunan Bharata.

(Bhgavadgita . XIV . 12 )

Kegelapan, kelesuan, kebodohan,

Dan kekacauan timbul apabila tamas berkuasa,

Wahai kesayangan diantara keluarga Kuru.

(Bhgavadgita . XIV . 13 )

Demikianlah pengaru triguna pada orang yang membawa kecendrungan – kecendrungan kejiwaan pada pada mereka itu . setelah pengaruh triguna ini, Bhagavadgita juga mengelompokkan 2 macam kecendrungan prilaku manusia sebagaimana telah diajarkan oleh Upanisad yaitu kecendrungan kedewataan dan kecendrungan keraksasaan. Kecendrungan kedewataan adalah kecendrungan pada sifat – sifat baik, seperti darmawan , jujur, lembut, kasih sayang dan lain – lain seperti dalam sloka berikut :

Tak gentar, sucihati, bujaksana, mendalami yoga dan ilmu pengetahuan,

Dermawan, menguasai indrya, berupa cara kebaktian,

Mempelajari kitab – kitab sastra, hidup sederhana dan jujur.

(Bhgavadgita . XIV . 1 )

Sedangkan kecendrungan sifat keraksasaan memiliki kecendrungan sifat takabur, sombong, benngis. Bhagavadgita menguraikannya sebagai berikut :

Sifat takabur, angkuh, membanggakan diri,

Pemarah, kasar dan bodoh,

Semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan dengan sifat keraksasaan.

(Bhgavadgita . XIV . 4 )

Demikianlah keterangan triguna dan kecendrungan sifat kedewataan.

3. Pengendalian Diri dan tindakan etis

Sifat – sifat yang dimiliki oleh orang yang memiliki sifat – sifat kedewataan adalah sifat – siat etis karena semuanya itu membawa orang pada keserasian, kedamaian, dan kebahagiaan. Sifat – Sifat rendah hati, tulus, jujur, hormat dsb adalah sifat – sifat etis yang baik dan benar.

Ini berarti orang harus menghindar dari sifat – sifat keraksasaan. Usaha untuk dapat lepas dari sifat – sifat yang tidak baik ialah dengan jalan menguasai diri sendiri. Dalam hal ini , bhagavadgita berulang – ulang menybutkan agar orang dapat menguasai indriya karena indriya yang menghubungkan manusia dengan dunia ini, dunia objek kesenangan. Dengan menguasai indriya maka keinginan yang timbul dari dirinya itu dapat diarahkan kepada tujuan – tujuan yang bak , yang membawa keselamatan pada dirinya sendiri.

Adapun metode untuk menguasai indriya, Bhagavadgita mengikuti praktek ajaran yoga. Indriya harus ditari dari objek – objek keinginan seperi kura – kura menarik semua anggota badannya kedalam dirinya. Dengan penguasaan diri atau indriya maka bahagia lah hidup di dunia ini dan kita mampu menerapkan sifat – siat kedewataan pada kehidupan sehari – hari, selain menguntungkan dirisendiri, pengendalian diri ini mmpu memberikan suasana harmonis dan bahagi adi sekeliling kita.

Diringkas oleh : I Wayan Sudharmika

Sumber : I Gede Sura , PENGENDALIAN DIRI danETIKA DALAM AJARAN AGAMA HINDU ,

1985

RENTETAN HARI RAYA NYEPI

Dalam menyambut hari raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan serangkaian upacara/upakara. Tujuan hakiki rangkaian upacara / upakara ini adalah memarisudha bumi, menjadikan alam semesta ini bersih, serasi, selaras dan seimbang. Bebas dari kebatilan, malapetaka, kekacauan sehingga umat manusia sejahtera, terbebas dari penidasan, kebodohan dan kemiskinan.

Adapun rangkaian upacara/upakara ini antara lain :

1. Mekiis, Melis, Melasti

Mekiis atau Melasti dilakukan dua hari sebeum Hari Raya Nyepi. Upacaranya adalah melakukan bersibersih pensucian segala srana dan prasarana perangkat alat-alat yang dipergunakan dalam rangka persembahyangan dan meditasi. Ini disebut upacara Pembersih. Dengan jalan mengarak bramai-ramai sarana dan prasarana tersebut ke laut.bagi umat Hindu , laut merupakan perlambang permbersihan semua kekotoran dimana Hyang Widhi berwujud Varuna (Baruna).

2. Tawur Kesanga, Tawur Agung, Mecaru

Tawur kesanga atau Tawur Agung atau mecaru dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Adapu upakaranya bertahap sesuai dengan tingkat klasifikasinya : untuk Negara, wilayah atau desa, banjar dan di masing-masing rumah tangga yang disebut dengan Bhuta yadnya.

selanjutnya di sore harinya disusul dengan pengrupuk atau mabuu – buu, yaitu pembersihan total di Negara, desa, banjar, atau rumah-rumah.

Tawur kesanga, Tawur Agung atau Mecaru adalah korban suci yang khusus yang diperuntukkan bagi para bhutakala yang menbulkan penyakit, malapetaka, kematian, dan lain sebagaiya, agar bhutakala ini tidak menganggu kelestarian alam, supaya hidup berdampingan selaras, serasi, dan seimbang.

Senja harinya tersebut dilaksanakan pengrupuk dan mebuu-buu, yaitu denan membunyikan bunyi-bunyian apa saja agar riuh ramai, dimaksudkan agar para bhutakala pergi jauh dari banjar atau desa. Untuk yang masih bersembunyi di tempat sempit, disemprot dengan mesui. Setelah selesai, segala perlengkapan yang digunak tadi baik itu obor, kaleng (bunyi-bunyian yang dipakai ) dan yang lainnya di buang / dilebar. Usai pengrupukan dan mabuu-buu, seluruh anggota keluarga bersembahyang untuk memohon kesucian dalam diri.

3. Nyepi, Sipeng

Nyepi atau Sipeng dilakukan tepat pada hari tanggal 1 bulan 1 tahun saka yang jatuh setelah tilem ( bulan mati ) sasih kesanga, dengan jalan

amati geni : tidak berapi-api

amati karya : tidak bekerja

amati lelungan : tidak bepergian

amati lelangunan. : tidak bersnang-senang

dan sebagai titik puncaknya, umat diwajibkan melaksanakan tapa brata, puasa, bersemadi, mengosngkan pikiran, menyatukan jiwa menuggal dengan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa . Nang – ning – nung – neng – nong, yaitu : tenang, hening, merenung, meneng (diam), dan kosong.

4. Ngembak Geni

Ngembak geni dilakuan sehari setelah Hari Raya Nyepi dimana umat kembali menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari sebagaimana biasaya. Mulai hari ini umat dapt melakukan sima krama atau / dan dharmasanti satu sama lain.

Ini dilaksanakan sebagai rangkaian terakhir upacara / upakara Hari Raya Nyepi dengan bersembahyang dan berdoa dini hari sebelum ayam berkokok, seperti yang diajarkan dalam Bhagawadgita :

Berlindunglah engkau pada Hyang widhi dengan seluruh jiwamu

Dan dengan restu-Nya engkau akan mencapai kedamaian tertinggi kekal abdi.

Kemudian, pada waktu siang hari pergi ke tetangga dan sanak sudra untuk melakukan simakrama atau / dan dharmasanti, yaitu ajang bersama saling bertemu, mendoakan keselamatan masing – amsing serta saing memafkan.

Sumber : Nyoman S. Pendit, NYEPI Hari Kebangkitan dan Toleransi, penerbit : Yayasan Merta Sari 1984.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.